Rabu, 07 Maret 2012
my princess
http://foto.detik.com/read/2012/01/26/151017/1825862/801/shakira-rahma-irianty-31-tahun-perempuan-f
Senin, 24 Oktober 2011
JUAL KEPITING KARAKA PAPUA
menerima pemesanan dan pengiriman kepiting/ karaka dari papua.
kepiting/ karaka papua merupakan kepiting yg mempunyai fisik atau isi yg besar dibandingkan dgn kepiting dari tempat lain...kepiting/ karaka papua memilki isi dan gizi yg banyak dan dipastikan lezat untuk disajikan
kami menerima pesanan dalam versi kecil maupun besar. dapat mengirimkan ke seluruh indonesia.
Hub 085254122006 / 081248122006
kepiting/ karaka papua merupakan kepiting yg mempunyai fisik atau isi yg besar dibandingkan dgn kepiting dari tempat lain...kepiting/ karaka papua memilki isi dan gizi yg banyak dan dipastikan lezat untuk disajikan
kami menerima pesanan dalam versi kecil maupun besar. dapat mengirimkan ke seluruh indonesia.
Hub 085254122006 / 081248122006
Rabu, 31 Agustus 2011
jual kepiting karaka papua
menerima pemesanan dan pengiriman kepiting/ karaka dari papua.
kepiting/ karaka papua merupakan kepiting yg mempunyai fisik atau isi yg besar dibandingkan dgn kepiting dari tempat lain...kepiting/ karaka papua memilki isi dan gizi yg banyak dan dipastikan lezat untuk disajikan
kami menerima pesanan dalam versi kecil maupun besar. dapat mengirimkan ke seluruh indonesia.
kepiting/ karaka papua merupakan kepiting yg mempunyai fisik atau isi yg besar dibandingkan dgn kepiting dari tempat lain...kepiting/ karaka papua memilki isi dan gizi yg banyak dan dipastikan lezat untuk disajikan
kami menerima pesanan dalam versi kecil maupun besar. dapat mengirimkan ke seluruh indonesia.
Testimoni penggemar karaka
walnya saya tidak begitu tertarik makan kepiting, tapi ketika menikmati kelezatan daging Karaka (kepiting rawa) yang begitu tebal, berserat dan segar, saya jadi ketagihan!
Karaka siap diserbu
Kepiting papua ini besar sekali, tentu saja berbeda sekali dengan kepiting yang pernah saya makan di Bogor. Kalo kepiting bogor, kita tidak perlu mengeluarkan tenaga kuda untuk memotes kaki-kaki kepiting, cukup dengan dua jari tangan seorang Iswanti saja kepiting-kepitng itu bisa tidak berkaki lagi (ini kepiting yang sudah jadi masakan loh ya). Tapi kalo kepiting papua, kita butuh hammer atau batu ulekan dengan tenaga kuda untuk menghancurkan batoknya.
Kepiting Karaka ini saya makan jika teman saya yang kerja di Teluk Bintuni Papua Barat pulang. Untuk mendapatkan kepiting besar ini memang memerlukan usaha, karena Karaka bisa didapati di Babo (masih dalam kabupaten Teluk Bintuni). Menuju Babo ini, teman saya harus menempuh waktu satu jam dengan speed boat. Lalu naik pesawat penerbangan perintis menuju Biak untuk selanjutnya terbang menuju Jakarta.
Kepiting karaka yang dia beli dalam keadaan sudah menjadi masakan. Ada yang berbumbu saus lada hitam, ada juga yang berbumbu saus cabe. Ketika saya iseng-iseng browsing di internet, ternyata harga Karaka sangat mahal! Di Jakarta harga kepiting papua 1 ekor Rp. 203,500, bahkan ada yang sampai mencapai Rp. 331,500 untuk satu ekornya! Ck ck ck. Beruntung sekali diriku ini menikmati Karaka gratis!! :D
Mengenai informasi gizi kepiting, menurut Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat UI, kepiting merupakan sumber kalsium yang baik (89 miligram per 100 gram), juga mengandung EPA (eicosapentaenoic acid) dan DHA (docosahexaenoic acid) yaitu komponen asam lemak Omega-3 yang penting dalam pembentukan membran sel otak pada janin sejumlah 0.3 gram (Brown et al. 2008).
Yang takut lemak jangan takut. Ternyata daging kepiting hanya sedikit mengandung lemak (sekitar 1 gram per 100 gram), lebih sedikit jika dibandingkan dengan daging ayam (sekitar 6-10 gram per 100 gram) atau daging kambing (11-12 gram per 100 gram). Demikian juga kandungan asam lemak jenuhnya relatif rendah (0.1 gram per 100 gram) jika dibandingkan daging ayam (2.2-2.6 gram per 100 gram) dan daging kambing (4.3 gram per 100 gram). Di samping itu, seperti telah disebutkan sebelumnya, daging kepiting juga mengandung asam lemak Omega-3 sedangkan daging ayam dan daging kambing tidak. Jadi sangat bagus makan kepiting (selain harganya yang bagus pulak hehe).
Karaka siap diserbu
Kepiting papua ini besar sekali, tentu saja berbeda sekali dengan kepiting yang pernah saya makan di Bogor. Kalo kepiting bogor, kita tidak perlu mengeluarkan tenaga kuda untuk memotes kaki-kaki kepiting, cukup dengan dua jari tangan seorang Iswanti saja kepiting-kepitng itu bisa tidak berkaki lagi (ini kepiting yang sudah jadi masakan loh ya). Tapi kalo kepiting papua, kita butuh hammer atau batu ulekan dengan tenaga kuda untuk menghancurkan batoknya.
Kepiting Karaka ini saya makan jika teman saya yang kerja di Teluk Bintuni Papua Barat pulang. Untuk mendapatkan kepiting besar ini memang memerlukan usaha, karena Karaka bisa didapati di Babo (masih dalam kabupaten Teluk Bintuni). Menuju Babo ini, teman saya harus menempuh waktu satu jam dengan speed boat. Lalu naik pesawat penerbangan perintis menuju Biak untuk selanjutnya terbang menuju Jakarta.
Kepiting karaka yang dia beli dalam keadaan sudah menjadi masakan. Ada yang berbumbu saus lada hitam, ada juga yang berbumbu saus cabe. Ketika saya iseng-iseng browsing di internet, ternyata harga Karaka sangat mahal! Di Jakarta harga kepiting papua 1 ekor Rp. 203,500, bahkan ada yang sampai mencapai Rp. 331,500 untuk satu ekornya! Ck ck ck. Beruntung sekali diriku ini menikmati Karaka gratis!! :D
Mengenai informasi gizi kepiting, menurut Departemen Gizi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat UI, kepiting merupakan sumber kalsium yang baik (89 miligram per 100 gram), juga mengandung EPA (eicosapentaenoic acid) dan DHA (docosahexaenoic acid) yaitu komponen asam lemak Omega-3 yang penting dalam pembentukan membran sel otak pada janin sejumlah 0.3 gram (Brown et al. 2008).
Yang takut lemak jangan takut. Ternyata daging kepiting hanya sedikit mengandung lemak (sekitar 1 gram per 100 gram), lebih sedikit jika dibandingkan dengan daging ayam (sekitar 6-10 gram per 100 gram) atau daging kambing (11-12 gram per 100 gram). Demikian juga kandungan asam lemak jenuhnya relatif rendah (0.1 gram per 100 gram) jika dibandingkan daging ayam (2.2-2.6 gram per 100 gram) dan daging kambing (4.3 gram per 100 gram). Di samping itu, seperti telah disebutkan sebelumnya, daging kepiting juga mengandung asam lemak Omega-3 sedangkan daging ayam dan daging kambing tidak. Jadi sangat bagus makan kepiting (selain harganya yang bagus pulak hehe).
karaka papua
Orang lebih mengenal dengan sebutan kepiting papua. Kepiting jenis yang satu ini asli berasal dari tanah papua yang habitat hidupnya ada di pedalaman hutan bakau pesisir pantai. Masyarakat papua pesisir pantai mencari karaka sebagai penghasilan utamanya disamping mencari ikan sebagai nelayan yang sudah dikerjakan turun menurun. Nelayan biasanya menangkap karaka di lubang-lubang pohon bakau yang banyak tumbuh dipantai, Kepiting karaka yang ditangkap biasanya yang memiliki ukuran besar, ini disebabkan rasanya yang lezat ketimbang kepiting yang ukurannya kecil. Karaka memiliki kandungan lemak yang rendah (sekitar 1gr/100gr) dan asam lemak jenuhnya juga rendah (0.1gr/100gr) dan kaya akan omega-3. Lezatnya daging karaka ketimbang kepiting jenis lainnya membuat banyak diburu orang, Mengkonsumsi karaka lebih sehat ketimbang daging ayam dan daging kambing, karena itu masyarakat papua telah mengkonsumsi karaka sejak zaman nenek moyang mereka. Pasokan karaka saat ini masih terbatas dari hasil tangkapan alam karena pembudidayaan secara insentife belum ada, ini dikarenakan sulitnya hewan yang satu ini untuk di tangkarkan. Untuk memenuhi permintaan dalam jumlah besar biasanya pemesan harus memesan jauh-jauh hari kepada nelayan setempat.
jual arwana super red
Kami menjual arwana super red, bersertifikat dan microchip, harga bersaing
contact person 085254122006 / 081248122006
contact person 085254122006 / 081248122006
Arwana Simbol Prestise dan Pembawa Hoki
JAKARTA - lkan arwana asal Indonesia - terutama hasil penangkaran – boleh diperdagangkan atau diekspor. Hal ini telah mendapat persetujuan Convention on International Trade in Endangered Species (CITES).Begitu terkena tombak, anak-anak ikan dimuntahkan, dan nelayan sudah siap mengambilnya dengan menebarkan jala atau memungutnya dengan serok. Setelah mendapatkan anakan arwana, para nelayan mendarat, dan di situ pula sudah ditunggu oleh para pengumpul/ pedagang setempat. Diperkirakan kuota ekspor arwana sampai tahun 2001, dapat mencapai kuota 10 ribu ekor lebih. Ini berarti, pangsa pasar ekspor arwana sungguh menggairahkan. Apalagi harganya amat menawan. Seekor arwana ekspor jenis super red dengan panjang tubuh 10-15 cm di Taiwan mencapai Rp 1 juta, malahan di Jepang bisa meroket sampai Rp 2 juta. Di samping Taiwan dan Jepang, negara tujuan ekspor lainnya adalah Hongkong, Korea, dan Singapura.Sementara itu, harga anakan arwana kuning emas di Kalimantan Barat sekitar Rp 100 ribu/ekor, sedangkan jenis merah mencapai Rp 250 ribu/ ekor. Tapi jangan kaget, harga itu merupakan transaksi antara nelayan penangkap arwana di Sungai Nanga Jentawang dan Danau Piam (Kal-Bar) dengan pengumpul setempat. Dari tangan pengumpul, arwana dimasukkan ke kantong plastik yang diisi air dan oksigen, kemudian meluncur ke Sintang. Diteruskan ke Pontianak, entah naik mobil atau entah naik pesawat udara. Lalu, dan Pontianak dijual ke Surabaya, Jakarta, atau langsung menerobos Singapura.Melihat harga arwana yang tidak murah itu, toh para penggemar tidak ambil pusing. Buktinya, kalau kita mendatangi rumah sobat-sobat kita, terpampang arwana dalam akuarium. Kadang ditaruh di ruang tamu, atau di ruang keluarga, atau pun di taman sekitar rumah. Bagi penggemar yang terlanjur demen dengan arwana, ia tak tanggung-tanggung mengoleksinya. Ada arwana jenis red, golden red, golden, silver, black, maupun green. Sebab dengan begitu, bisa menaikkan status, gengsi, atau prestise pemiliknya. Malahan sebagian penggemar beranggapan, ikan arwana ini mampu membawa hoki (keberuntungan). Percaya atau tidak, terserah Anda!Potensi Kalimantan BaratCerita soal arwana ini memang cukup unik. Orang-orang Dayak menyebutnya: ”siluk”, ”peyang”, ”naga”, ”kayangan”, atau ”arowana”. Dan cerita soal arwana tentu tak terlepaskan dengan kawasan Kalimantan Barat. Mengapa demikian? Pada tempo doeloe, ikan arwana masih menjadi ikan konsumsi. Di perairan sungai Kapuas Kal-Bar, banyak sekali dijumpai arwana. Dan saking banyaknya ikan-ikan arwana tergeletak di tepian sungai. Membusuk sia-sia. Atau kadang diambil orang untuk dijadikan ikan asin. Tapi selang waktu berikutnya, para penggemar ikan hias melirik keindahan yang ditampilkan ikan arwana ini. Semenjak itulah, arwana mulai ”naik daun” dan sungguh sayang kalau sekadar digoreng dan dimakan. Arwana dipelihara dan mulai dipercaya mampu membawa hoki.Jika suatu saat Anda jalan-jalan sampai ke Kampung Nanga Ketungau, dekat Sintang, Anda bisa tertegun melihat bagaimana nelayan pada menangkap ikan arwana. Sungai Ketungau memiliki panjang 205 km, dan airnya berwarna cokelat gelap kehitaman. Sedangkan pada tepian sungai ditumbuhi beberapa pohon ”unik” seperti: engkana, putat, rasau, dan entangis. Pepohonan tersebut memiliki akar di dasar sungai dengan batang pohon di dalam air, tapi daun-daunnya malah mencuat rimbun ke atas. Dan di sanalah ikan-ikan arwana berada, berkembang biak, dan bersembunyi.Lalu bagaimanakah menangkapnya? Pada malam hari di musim penghujan, nelayan menggunakan etek-etek (sampan kecil) dilengkapi dengan jala, tombak, serok (tangguk), serampang, lampu 12 volt, dan aki. Kendaraan etek-etek dengan lampunya menyala sengaja meluncur menyusuri tepian sungai. Mencari induk arwana. Yang semula sembunyi, lalu terangsang ke luar melihat adanya lampu itu. Bahkan mencoba mendekati lampu. Dan pada saat itu, tombak dijulurkan dan ditancapkan ke arah arwana.Nelayan sangat beruntung, jika induk arwana yang ditombak itu ternyata sedang ”menyimpan’” anak-anaknya di dalam mulut. Begitu terkena tombak, anak-anak ikan dimuntahkan, dan nelayan sudah siap mengambilnya dengan menebarkan jala atau memungutnya dengan serok. Setelah mendapatkan anakan arwana, para nelayan mendarat, dan di situ pula sudah ditunggu oleh para pengumpul/ pedagang setempat.Sebelum dibawa ”ke luar”, mestinya perlu mendapatkan izin dan PHPA (Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam). Toh masih seringkali dijumpai adanya penyelundupan melalui Bandara Supadio, Pontianak. Penyelundup sengaja mencampurkan anakan arwana dengan anakan ikan lain yang tidak dilindungi (nila, tawes dan sebagainya). Atau ada pula yang dimasukkan kantong plastik yang berisi oksigen, lalu diselipkan ke dalam kopor bersama pakaian.Sungguh prihatin aparat Kal-Bar semakin tertantang agar potensi yang dahsyat ini bisa menjadi aset provinsi, terlebih di era otonomi daerah. Bukan saja menjaga keamanan untuk mengerem terjadinya penyelundupan, tetapi juga bagaimana teknik penangkaran ikan arwana semakin disosialisasikan kepada masyarakat Dayak. Sebab secara ekonomis, jelas-jelas menguntungkan!
Langganan:
Postingan (Atom)